Mengenal lebih jauh sosok Irfan Bachdim

 

Sejak piala AFF 2010, Irfan Bachdim menjadi perbincangan hangat dimana-mana, terutama kaum hawa. Ingin lebih jauh mengetahui tentang sosok Irfan Bachdim dan perjalanan karirnya hingga bisa menjadi Timnas Indonesia?

Irfan terlahir dari kedua orang tuanya, yaitu ayah Noval Bachdim dan ibu Hester van Dijic. Ayah Irfan pernah menjadi pemain Persema Malang di era 80-an. Ayahnya yang asli Indonesia menikahi ibunya yang merupakan keturunan Belanda. Tempat tinggal keluarganya di Indonesia berada di Lawang, kabupaten Malang. Sedangkan sejak kecil pria kelahiran 11 Agustus 1988 ini tinggal di Amsterdam bersama ibunya.

Perjalanan karier Irfan Bachdim

Irfan pernah bergabung di akademi sepak bola Ajax Amsterdam sekitar tahun 1996. Setelah 3 tahun pindah ke SV Argon. Di klub ini ia menjadi pencetak gol terbanyak meskipun posisinya sebagai gelandang. Tahun 2002 Irfan kemudian direkrut ke FC Utrecht dan menanda tangani kontrak dengan klub tersebut. Ia bermain untuk tim junior Utrecht dan pernah juga menjadi pemain cadanga tim senior Utrecht. 

Irfan sempat hampir membela tim sepak bola U-23 Indonesia di Asian Games 2006 – Qatar. Sayang Irfan Bachdim harus absen dari turnamen tersebut disebabkan menderita cedera. Pada Bulan Juli 2009 Irfan Bachdim ditransfer tanpa biaya ke klub HFC Haarlem. Dalam bermain Irfan Bachdim bisa menempati berbagai posisi, Irfan Bachdim dapat menempati posisi striker, gelandang maupun sayap.

Setelah sempat diragukan kemampuannya oleh beberapa pelatih Indonesia, baik untuk timnas maupun klub. Namun tak membuat anak ketiga pasangan Nouval Bachdim dan Hester van Dijic ini putus asa merangkai asa untuk bisa berseragam merah-putih dengan Garuda didada.

Kesempatan pun akhirnya datang tatkala ada event pertandingan charity game yang diadakan di dua kota, Malang dan Surabaya. Charity game  dipersembahkan untuk tokoh sepak bola di dua kota tersebut yang dianggap memiliki sumbangsih bagi kemajuan sepak bola Nasional. 

Irfan Bachdim menjadi salah satu pemain keturunan yang ikut dalam ajang tersebut, selain juga Kim Jeffry Kurniawan dan Alessando Trabucco.
.
Pada Maret 2010 lalu, Irfan mengikuti seleksi pemain di Persib Bandung dan Pesija Jakarta, namun kedua klub tersebut tidak memilihnya.

Pada tanggal 9 Agustus, pria bernama lengkap Irfan Haarys Bachdim ini direkrut oleh pelatih Persema Malang, Timo Scheunemann, yang sebelumnya saat menjabat staf BTN getol untuk mendata dan mendatangkan pemain keturunan untuk mengikuti program naturalisasi, setelah melihat permainan Irfan dan pemain muda lainnya berlaga untuk tokoh sepak bola Lucky Acun Zaenal di stadion Gajayara, Malang. 

Permainan Irfan bersama Persema Malang pun memikat hati pelatih timnas Alfred Riedl, yang memanggilnya di TC terakhir timnas pada 1 November 2010 lalu. Tak tanggung-tanggung starting line-up  pun langsung ditempati Irfan.

”Aku pulang ke Indonesia memang tujuannya agar terpantau untuk timnas, sebab jika tetap bermain di Belanda aku tidak akan terpantau,” jelas Irfan dengan bahasa campuran Indonesia dan Inggris-nya.

Irfan menyadari jika karier tertinggi pemain sepak bola adalah menjadi pemain timnas negaranya. Gaji kontrak besar didepan mata yang diterima di Negeri Kincir Angin pun tak lagi mampu membuatnya betah bertahan. Pulang kampung menjadi pilihannya dan ini didukung sepenuhnya oleh orang tua dan keluarga besar Bachdim.


Penampilan Irfan Bachdim di timnas Indonesia

Penampilan perdana Irfan bersama timnas Indonesia adalah saat timnas menang 6-0 pada pertandingan persahabatan melawan Timor Leste di Palembang pada 21 November 2010. Penampilan perdana pada tournamen resmi ditunjukkan pada ajang AFF Suzuki Cup 2010 melawan Malaysia 5-1 di Gelora Bung Karno pada 1 Desember 2010. Ia berhasil mencetak 1 gol.

Bersama Cristian Gonzales, duet di lini depan dengan selisih umur 12 tahun Irfan tak tampak terlihat canggung, bahkan gol bunuh diri yang dilakukan oleh pemain Malaysia yang juga penyama kedudukan setelah kontrol bola yang dilakukannya memanfaatkan umpan silang Nasuha dari sisi kanan pertahanan Malaysia.

Selain assist, pergerakan tanpa bola penyuka sate ayam ini cukup merepotkan lini belakang Malaysia. Bahkan menjelang akhir pertandingan Irfan mampu memperbesar kemenangan timnas menjadi 5-1 melalui tendangan kaki kanannya.

”Dia memiliki akurasi tendangan, skill individu  serta dasar sepak bola modern, ditangan pelatih yang tepat saya yakin Irfan akan semakin bersinar,” kata Timo kala pertama meyakinkan publik bola Malang, jika rekomendasi mengontrak Irfan adalah benar.

Pujian pun membanjirinya, baik langsung maupun tak langsung. Bahkan kekasihnya Jennifer Kurniawan yang tak lain kakak dari Jefry Kurniawan yang bermukim di Jerman terus memberikan support  dan dukungan melalui twiter maupun Facebook.

Kini sosok Irfan mulai mengisi dan bersanding dengan popularitas Bambang Pamungkas, Firman Utina, maupun Ahmad Bustomi yang lebih dahulu gabung dengan timnas dan mengecap popularitas, sekaligus menjadi amunisi baru Merah-Putih di lini depan yang selama ini dikenal susah mencetak gol.


Bukan pemain naturalisasi

Sering disebutkan bahwa Irfan adalah pemain naturalisasi. Namun hal ini ditampik oleh pamannya tinggal di Indonesia bahwa Irfan bukan merupakan pemain naturalisasi karena ia punya kartu pasport negara Indonesia.
Selain karena memiliki paras wajah Indo seperti kebanyakan artis sinetron di negri ini, skill  dan kemampuanya dalam mengolah si kulit bundar mencuri perhatian publik bola dalam negri. 

”Meskipun pemain keturunan, aku bukan pemain naturalisasi, saya asli Indonesia,”ujar Irfan yang mencoba meluruskan pemberitaan yang sudah telanjur memberitakan jika Irfan bersama Cristian Gonzales merupakan produk naturalisasi.  

Status ini bisa dilihat di klubnya Persema Malang, Irfan bukan sebagai pemain asing, melainkan sebagai pemain lokal sejak awal pengesahannya. Bahkan melejitnya nama Irfan di blantika sepak bola Nasional bersama timnas jauh-jauh hari sudah di prediksi Timo Scheunemann, pelatih Persema Malang.


Profil:

Nama               : Irfan Haarys Bachdim
Panggilan          : Irfan
Orangtua          : Noval Bachdim (ayah), Hester van Dijic (ibu)
Lahir                : Amsterdam, 11 Agustus 1988
Tinggi/berat      : 178 cm/ 62 kg.
Pemain Favorit : Ricardo Kaka (Brasil)
Hobi                : Nonton dan kuliner
Pemain Favorit : Ricardo Kaka (Real Madrid/Brasil)
Posisi               : Gelandang serang, striker
Karier Klub:  
1994-1998      : SV Argon
1998-2001      : AFC AJAX
2001-2003      : SV Argon
2003-2009      : FC Utrecht
2009-2010      : HFC Haarlem / SV Argon
2010-sekarang: Persema Malang (Indonesia)
Prestasi:
Top Skorer Liga Amatir Belanda U-15 2002 (25 gol, Argon)
Top Five Best Player 2002 Liga Amatir Belanda

Share this article on :
 
© Copyright 2010-2011 Marco Simoncelli MotoGP All Rights Reserved.
Template Design by michael Blogger | Published by style Templates | Powered by Blogger.com.